//
you're reading...
MY JOURNAL

[MY] Pengalaman Delay 9 Jam Bersama Air Asia

Foto : Dokumen Pribadi

Foto : Dokumen Pribadi

Dalam suatu penerbangan dari Jakarta ke luar kota dengan menggunakan maskapai Air Asia, penulis pernah mengalami delay yang cukup lama.  Sekitar 9 jam.  Jadwal terbang semula seharusnya adalah jam 19.00 WIB.

Sehari sebelum keberangkatan, pada jam 22.55 WIB, ada email dari Indonesia Preflight (Air Asia) yang menyatakan bahwa penerbangan diundur ke jam 20.00 WIB.  Tidak masalah buat penulis karena memang sudah sering mengalami delay selama 30 – 60 menit bila menggunakan Air Asia untuk penerbangan malam hari.

Pada hari H, penulis tetap pergi ke bandara Soekarno Hatta sesuai jadwal saja karena memang delaynya hanya 55 menit.  Sampai di bandara, segera proses check – in.  Mbak petugas di meja check-in juga memberitahu “ada delay 1 jam ya mas.”

Penulis lanjut berjalan kaki ke ruang tunggu, di sana banyak penumpang mengerumuni meja petugas di tengah.  Ternyata sedang antri mengambil kotak-an.  Alhamdulillah, meski hanya terlambat 1 jam tapi dapat kotak-an.  Ketika dibuka isi kotak-an tersebut adalah wafer coklat dan roti. Diberi juga air mineral dalam ukuran gelas.

Foto : Dokumen Pribadi

Foto : Dokumen Pribadi

Pada jam 19.00, ada email lagi yang masuk dari Indonesia Preflight yang menyatakan bahwa terjadi delay lagi sehingga penerbangan direscheduled ke jam 04.45 WIB besok paginya.  Saat hal tersebut diumumkan di ruang tunggu, serentak suasana langsung gaduh.  Banyak penumpang yang mendatangi meja tengah petugas Air Asia.  Protes… Unjuk rasa… Aksi damai… Penjarakan Ahok.. Eh enggak ding… 😀

Yang paling kencang protesnya adalah yang akan melanjutkan perjalanan ke kota lain.  Mereka akan kehilangan tiket penerbangan berikutnya.  Tapi jumlahnya tidak banyak.  Kebanyakan penumpang bertanya, masa kita menunggu delay 9 jam di ruang tunggu bandara?  Mereka minta menunggu di hotel.

Untungnya Air Asia sudah siap dengan kondisi seperti ini.  Penumpang diberitahu bahwa mereka akan diinapkan di Hotel Ibis Style dan dipersilakan menuju pintu keluar bandara untuk menunggu jemputan bis ke hotel.

Tak berapa lama bus jemputan pun datang.  Ada beberapa bus yang datang untuk mengantar penumpang ke hotel.  Bus kecil sebesar shuttle bus di airport, ada juga minibus dan bus yang agak besar.  Tetapi jarak kedatangannya tidak sekaligus, sehingga penumpang harus menunggu.  Bis yang digunakan tidak terbatas pada bis milik Air Asia saja.  Ada juga bus Hotel Ibis untuk segera mengangkut penumpang yang sebagian besar masih kecewa dan dongkol dengan delay ini.  Lumayan sigap antisipasinya. Di dalam bus ada petugas dari Air Asia yang menemani para penumpang ini.

Foto : Dokumen Pribadi

Foto : Dokumen Pribadi

Karena letak Hotel Ibis Style berada di jalan menuju bandara, maka bus harus memutar cukup jauh setelah keluar dari tol.  Perjalanan menuju ke hotel memakan waktu 30 – 40 menit malam itu.  Lumayan capek juga bagi penumpang yang berdiri di bis. Yang bikin tersenyum kecut adalah, petugas di dalam bis ini tidak tahu para penumpang ini mau dibawa ke hotel apa.  Apalagi ketika petugas Air Asia tersebut bertanya ke petugas parkir Hotel Ibis Style apakah ada bus Air Asia yang masuk ke halaman hotel dan petugas parkir menjawab tidak ada bus Air Asia yang masuk.  Petugas Air Asia juga tidak dibekali alat komunikasi HT.  Sehingga cukup lama bis berhenti di jalan di depan hotel Ibis Style.  Sampai akhirnya ada juga petugas Air Asia yang lain yang baru keluar dari hotel, menyuruh kami di dalam bus untuk turun dan segera masuk hotel.  Rupanya sudah ada bus Air Asia yang sampai lebih dulu di Hotel Ibis Style.  Oalaaa… tukang parkir.. tukang parkir…

Proses cek-in di hotel juga lumayan ribet, karena jumlah penumpang banyak dan tidak datang ke hotel bersamaan.  Sehingga penumpang yang belakangan sampai hotel tidak tahu harus berbuat apa karena tidak ada perintah atau instruksi.  Akhirnya penumpang hanya bisa ngantri sambil saling bertanya satu sama lain.

Rupanya perintah sebelumnya adalah, setiap penumpang harus menuliskan nama dan nomor hp-nya pada selembar kertas (semacam kertas absen).  Lalu bila “kertas absen” tersebut sudah terisi penuh, harus diserahkan ke resepsionist hotel.  Nanti petugas hotel akan mengelompokkan setiap 2 orang (kenal maupun gak kenal) berada di kamar yang sama.  Sepasang penumpang harus menunjukkan boarding pass-nya untuk ditukar dengan kunci kamar.  Nah… penumpang yang baru sampai di hotel tidak tahu-menahu dengan instruksi tersebut.  “Kertas absen” pun hanya dibiarkan tergeletak di meja internet.  Sambil menunggu kejelasan dan meskipun saat itu tidak tahu apa fungsi “kertas absen” tersebut, penulis menuliskan nama dan nomor hp di kertas absen tersebut.

Untung bagi penulis, ada seorang penumpang yang sudah sampai terlebih dahulu dan mengetahui penulis sendirian, dia segera menawarkan untuk bergabung dalam kamar yang sama.  Dia segera meminta boarding pass penulis lalu beranjak ke resepsionist untuk minta kunci kamar.  Cukup cepat proses untuk mendapat kunci kamar.  Lalu kamipun segera menuju ke kamar.  Penulis tidak tahu apakah penumpang yang lain mengetahui prosedur tersebut.  Bila tidak tahu, mereka pasti akan lama mengantri mendapatkan kamar hotel.

Kamar yang disediakan bagus. Kamar sangat bersih.  Ada 2 bed sehingga kamar terasa sempit.  Dengan fasilitas hotel yang lengkap TV puluhan channel, AC dingin, hot water di kamar mandi serta kalau mau minum kopi atau teh, sudah tersedia peralatannya.  Tinggal membuat sendiri.

Keesokan paginya jam 02.30 WIB, telepon kamar berdering.  Resepsionist mengingatkan agar segera turun ke lobby untuk persiapan berangkat ke bandara lagi.  Sampai di bawah penumpang diarahkan ke ruangan makan untuk mengambil sarapan.  Sederhana sarapannya.  Nasi goreng!!   Walaupun sederhana, namun penumpang tetap berebutan mengambil nasi goreng… 😀

Bus mulai berangkat jam 03.00 WIB dan hanya butuh 10 menit kemudian bis sudah sampai di airport.  Penumpang langsung menuju ke ruangan tunggu, tanpa perlu ke meja check-in lagi.  Boarding pass yang dipakai tetap boarding pass semalam.

Namun ada yang mengherankan.  Yaitu tulisan di papan elektronik yang menampilkan jadwal penerbangan.  Ternyata di papan tersebut tertulis bahwa pesawat kami akan terbang jam 05.45 WIB.  Satu jam lebih lambat dibandingkan pengumuman semalam.  Waduh delay lagi 1 jam.

Meskipun demikian, sebagian besar penumpang tetap masuk ke ruang tunggu.  Tunggu punya tunggu, ternyata kali ini tidak terjadi delay lagi.  Penumpang masuk pesawat jam 04.25 WIB.  Dan pesawat akan berangkat jam 04.45 WIB.  Loh ! Padahal di papan pengumuman elektronik tadi tertulis jam 05.45 WIB.  Mudah-mudahan tidak ada penumpang yang terkecoh dengan tulisan di papan elektronik tersebut.  Bisa saja setelah membaca jadwal di papan tersebut mereka memutuskan tetap berada di luar ruang tunggu untuk mampir di kafe ataupun melakukan Sholat Subuh di musholla.  Kasihan bila mereka tertinggal gara-gara informasi yang salah di papan elektronik.

Gimana nih pihak yang memasang jadwal di papan elektronik di bandara Soekarno Hatta?

Discussion

No comments yet.

Bagaimana pendapat Anda?

GOOGLE TRANSLATE

Discount Hotel di Bali

Daftar isi Traveler Post

Arsip Traveler Post

Hotel Murah di Agoda.com

Ikuti Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 147 other subscribers

Tiket Murah di Tiket.com

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: