//
you're reading...
MY JOURNAL

[MY] Maskapai Penerbangan Pilihan The Traveler Post (dari Sisi Safety)

sumber foto : www.news.com.au

sumber foto : www.news.com.au

Alasan kita memilih maskapai untuk melakukan perjalanan ada banyak faktor. Salah satunya adalah faktor safety (keselamatan). Memang nasib dan takdir di tangan Tuhan. Sebaik-baik manusia berencana, Tuhan yang menentukan.

Namun demikian, hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan faktor safety. Karena bagaimanapun juga sebagian besar terjadinya kecelakaan pesawat terbang disebabkan oleh human error. Kesalahan pada manusianya, baik itu yang berasal dari maskapainya, pengelola airport maupun penumpangnya.

Berikut ini adalah pendapat kami pribadi mengenai urutan pesawat yang akan kami naiki berdasarkan faktor safety-nya. Ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi. Tidak ada pesan sponsor di sini. Bila ada yang mau sponsor.. Wani piro? Hahaha (kidding). Urutan teratas berarti maskapai yang membuat kami merasa aman terbang bersama mereka.

Catatan : Ini di luar masalah teknis operasional yang kami tidak paham, tapi berdasarkan rasa nyaman dan aman yang kami rasakan setelah melihat keadaan pesawat, sikap penumpang dan awak kabin bekerja.

(Saat ini memang masih jadi perdebatan hangat tentang isu apa kaitan penggunaan sinyal handphone terhadap keselamatan pesawat terbang. Namun yang pasti, saat ini setiap maskapai masih mengumumkan larangan penggunaan handphone/alat elektronik ketika take off dan landing. Demikian juga sanksi pidana dan denda terhadap pengguna handphone di atas pesawat terbang masih berlaku).

  • Air Asia

Mengapa? Sejak terjadinya kecelakaan Air Asia di Laut Jawa beberapa bulan lalu, kami melihat ada perubahan signifikan yang dilakukan oleh pramugari di atas kabin. Ketika kami sudah duduk di dalam pesawat. Pramugari mondar mandir mengecek penumpang (pemasangan sabuk pengaman, sandaran kursi, tutup jendela pesawat dan penggunaan handphone / komputer). Khusus untuk penggunaan handphone / alat elektronik, mereka akan meminta penumpang untuk mematikan handphone / alat elektronik. Dan ditungguin !!! Mereka tidak akan beranjak meninggalkan penumpang yang masih belum mematikan handphone-nya. Ini luar biasa… Sampai sekarang kami melihat hal ini hanya terjadi di Air Asia Indonesia. Memang sih sesekali ada pramugari yang sekadar mengingatkan lalu langsung berjalan pergi. Tapi sebagian besar pramugari akan berdiri menunggu sampai penumpang mematikan handphone / alat elektroniknya. Selain itu, kami berpendapat proses landing pesawat Air Asia adalah yang paling mulus di Indonesia.

  • Batik Air

Alasannya sangat sederhana. Batik Air adalah salah satu maskapai non budget di Indonesia selain Garuda dan Sriwijaya Air. Ketika naik Batik Air, kami melihat sedikit sekali penumpang yang bermain handphone menjelang take off. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Analisa kami adalah mereka yang naik Batik Air (yang harganya lumayan tinggi) mengeluarkan uang dari kantong mereka sendiri untuk beli tiketnya. Bukan dibelikan kantor atau instansinya. Sehingga jumlah orang “berada” yang naik Batik Air terseleksi dengan sendirinya, yaitu penumpang-penumpang yang melek safety (baca tahu peraturan dan etika). Kalau mereka tidak melek safety, mereka pasti memilih maskapai yang lebih murah harga tiketnya. Memang ada sebagian kecil yang masih menggunakan handphone di atas pesawat menjelang take off, tapi kami lihat sih tipenya orang yang songong atau orang yang jarang naik pesawat tapi sok keren… huekk!

  • Garuda Indonesia

Alasannya sebenarnya berbanding terbalik dengan alasan di Batik Air. Yang kami tahu, sebagian besar perusahaan BUMN, instansi pemerintah dan swasta besar selalu menggunakan Garuda Indonesia untuk perjalanan dinas karyawannya. Karena biaya ditanggung perusahaan maka tipe penumpang yang naik Garuda lebih beragam di bandingkan Batik Air.

Maksudnya semua penumpang Garuda pasti berpendidikan tinggi, namun level kesadaran akan safety-nya lebih beragam dibandingkan batik Air. Dari level yang peduli safety sampai dengan yang tidak peduli safety (baca songong). Kami melihat masih banyak penumpang di Garuda yang masih mengaktifkan dan bermain handphone ketika menjelang take off. Bahkan tidak mematikan handphone-nya ketika pesawat take off atau landing. Mereka tidak peduli dengan himbauan yang disampaikan oleh pramugari melalui pengeras suara. Bahkan kerap terjadi ketika diingatkan oleh pramugari, penumpangnya lebih galak reaksinya (hadeuuh.. birokrat gitu loh).

  • Citilink

Citilink merupakan maskapai low budget. Mayoritas penumpang yang naik Citilink adalah penumpang yang masih berorientasi “harga murah”. Hal ini tentu saja berpengaruh pada jumlah penumpang yang melek safety di pesawat ini. Jumlah penumpang yang masih bermain handphone menjelang take off masih banyak. Sampai-sampai kami melihat pramugari pada putus asa mengingatkan mereka supaya mematikan handphone. Ujung-ujungnya ya dibiarkan saja.

Bila ingin melihat perilaku lain dari penumpang Citilink, coba anda terbang dari bandara Halim Perdana Kusuma. Ketika penumpang sudah berdiri di antrian boarding (keluar dari gedung bandara), lihat kursi tempat duduk di ruang tunggu. Banyak sekali sampah berserakan di bawah kursi. Padahal di ruang tunggu tersebut disediakan tempat sampah juga.

Beberapa tahun lalu ketika Citilink masih beriklan menggunakan sosok Dahlan Iskan, ada kejadian yang sangat memprihatinkan. Pramugari Citilink masih muda-muda sekali. Kelihatan belum punya pengalaman banyak. Nah ketika pesawat sedang berjalan di landasan menunggu giliran take off, di pengeras suara ada pramugari yang sedang mengingatkan penumpang agar mematikan handphone-nya karena dapat membahayakan penerbangan. Pada saat yang sama, kami melihat satu pramugari yang duduk di bagian belakang pesawat sedang bermain BBM dan sempat menerima telepon dari “yayangnya” (bicaranya mesra sih…). Tapi sekarang kami sudah tidak pernah melihat kejadian seperti itu lagi di Citilink.

  • Sriwijaya Air

Khusus untuk Sriwijaya Air, kami melihat jumlah penumpang yang masih bermain handphone lebih sedikit dibandingkan di Citilink. Pramugarinya juga hanya mengingatkan kepada penumpang, lalu beranjak pergi. Yang membuat kami menempatkan Sriwijaya di bawah Citilink adalah karena kami terbang menggunakan pesawat lama. Yang tv-nya masih “wungkul” dan dipasang di atas lorong pesawat (meskipun sudah tidak berfungsi lagi !!). Bila yang kami naiki jenis pesawat baru, ya saya akan menempatkan Sriwijaya Air di atas Citilink.. (ikon senyum).  Oya, penumpang yang naik Sriwijaya Air tidak seurakan penumpang Citilink dalam hal barang bawaannya.

  • Lion Air

Kami sudah beberapa tahun ini tidak menggunakan jasa maskapai ini. Mungkin hanya dalam keadaan terpaksa saja kami akan naik maskapai ini. Sorry to say.. Selain banyaknya delay, jumlah penumpang Lion Air yang melek safety sangat-sangat sedikit. Seperti halnya Citilink, hal ini berkaitan dengan pangsa pasar Lion Air (terutama rute di pulau Jawa) yang sebagian besar adalah mereka yang “murah oriented”.

Coba lihat di dalam pesawat, berapa orang yang masih memainkan / menggunakan handphone-nya. Terus coba lihat berapa jumlah barang / tas yang mereka bawa masuk ke atas kabin. Saking banyaknya barang bawaan setiap penumpang, banyak penumpang lain yang kehilangan haknya menggunakan bagasi di atas kepalanya. Akibatnya tas bawaan mereka ditaruh di bawah kursi atau dipangku. Hal ini tentu sangat berbahaya ketika terjadi proses evakuasi (menghambat jalan evakuasi).  Ada yang lebih parah.  Beberapa tahun lalu ketika mendarat di Palembang, setelah turun tangga belakang pesawat, ada satu penumpang yang hendak menyalakan rokok ketika dia pas berada di bawah sayap pesawat.  Untung ada petugas yang segera berlari dan mengingatkan penumpang muda tersebut.  Sayap pesawat adalah tempat menyimpan bahan bakar pesawat, bisa dibayangkan akibatnya bila terkena api.  Pertanyaannya adalah bagaimana dia bisa membawa korek api melewati pemeriksaan di Bandara Soetta?  Selain itu dalam beberapa kali kesempatan, kami mengalami proses landing Lion Air yang cukup keras dan proses pengeremannya kurang soft, sampai penumpang di dalamnya enjut-enjutan..

Sekali lagi ini adalah versi kami, yang secara pribadi ingin naik pesawat terbang dengan rasa aman dan nyaman. Kami sih berharap ada ketegasan dari berbagai maskapai melalui awak kabinnya dan staf terkaitnya terutama terkait penggunaan handphone di atas kabin dan jumlah barang yang boleh dibawa ke atas kabin pesawat.

Mimpi kami ada maskapai yang menomorsatukan safety. Bila ada penumpang yang bandel ketika diingatkan larangan penggunaan handphone langsung diturunkan saja (kalau perlu dari ketinggian 5000 meter hihihi…). Kami mau jadi frequent flyernya kalau ada pesawat seperti itu…

Discussion

No comments yet.

Bagaimana pendapat Anda?

GOOGLE TRANSLATE

Discount Hotel di Bali

Daftar isi Traveler Post

Arsip Traveler Post

Hotel Murah di Agoda.com

Ikuti Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 147 other subscribers

Tiket Murah di Tiket.com

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: