//
you're reading...
MY JOURNAL

[MY] Kapok ke Benteng Pendem – Cilacap

sumber foto : kaskus.co.id

sumber foto : kaskus.co.id

Kali ini saya akan cerita pengalaman saya mengunjungi Benteng Pendem di Cilacap. Tujuan utama saya sebenarnya adalah untuk menyeberang ke Pulau Nusa Kambangan. Tapi karena masih pagi dan kebetulan saya lihat di sebelah kanan jalan ada plang bertuliskan Benteng Pendem, maka saya sempatkan mampir dulu ke Benteng tersebut.

Waktu itu masih sekitar jam 06.15 pagi. Saya segera menuju ke loket penjualan tiket masuk Benteng Pendem. Tapi tidak ada petugas di dalam bilik loket tersebut, padahal ada tulisan bahwa jam buka Benteng Pendem mulai jam 06.00 WIB.   Saya celingak celinguk ke sekitar loket, tidak ada petugas di sekitar saya (asumsi saya petugas loket pasti pakai baju seragam).

Tidak berapa lama ada mbak-mbak yang sedang menyapu dan kemudian nyamperin saya. Mau masuk Benteng ya Mas? – Iya nih, mana petugas loketnya Mbak? – Saya juga yang jaga loket Mas. – Oh begitu.. Sudah buka kan Mbak – Sudah kok Mas..

Ternyata selama belum ada pengunjung datang, si Mbak ini menyapu halaman di depan Benteng Pendem. Wah job desc-nya gak nyambung nih.

Setelah beli tiket, saya pun bergegas masuk ke dalam area Benteng Pendem. Di dalam masih sepi. Di depan saya ada bangunan yang di atasnya ada beberapa laki-laki sedang ngobrol. Tapi bukan turis, mungkin petugas di situ. Lalu saya lihat ada petunjuk bahwa pengunjung harus belok ke sebelah kanan (ke arah sayap kiri benteng). Saya pun mengikuti petunjuk tersebut lalu melewati pintu pagar. Ternyata di sana ada bangunan barak prajurit. Sambil melihat-lihat keadaan barak, saya pun mengambil foto-foto di sekitar barak tersebut.

Sekitar 10 meter di depan saya, ada seorang bapak-bapak yang memperhatikan saya. Tidak full memperhatikan saya sih (kok kege-eran sih..), tapi sebentar-sebentar dia melihat ke arah saya. Saya coba perhatikan, sepertinya dia adalah tukang sapu di dalam benteng. Karena dia baru saja membuang sampah ke dalam gerobak sampah di depannya.

Setelah merasa cukup mengambil foto di barak di sisi kanan benteng, saya pun meneruskan jalan kaki saya.   Lalu berhenti lagi untuk melihat lebih detil kondisi benteng.   Saya melihat si “tukang sapu” mengikuti saya. Ketika saya jalan, dia ikut jalan. Ketika saya berhenti, dia ikut berhenti.

Oh mungkin dia mau menawarkan jasa guide ke saya. Tapi kok tidak mendatangi saya. Saya jalan lagi, saya lirik tukang sapu itu pun tetap mengikuti.   Sampai di bagian belakang tengah benteng saya pun berhenti. Saya kerjain saja si tukang sapu ini.   Saya tidak suka diikuti orang. Jadi sayapun berhenti dan mengambil foto di tempat itu cukup lama. Ada sekitar setengah jam. Strategi saya berhasil. Tukang sapu penguntit itu tidak tahan lama-lama nungguin saya. Dia pun pergi.

Setelah melihat tidak ada lagi yang mengikuti, saya saya pun berjalan lagi. Sampailah saya di sisi sayap kanan di bagian belakang benteng. Di sini tempatnya lebih menarik, karena ada kanal air yang menuju ke sungai. Juga ada terowongan yang katanya menghubungan Benteng Pendem dengan benteng yang ada di Pulau Nusa kambangan. Saya sempat mengintip. Kondisi terowongan sangat kotor, tergenang air gelap dan menyeramkan. Katanya di lokasi inilah pernah dilakukan syuting acara TV “Uji Nyali”.

Kondisi benteng masih sepi. Mungkin hanya saya satu-satunya pengunjung yang ada saat itu. Saya melanjutkan perjalanan ke arah depan benteng (masih di sayap kanan benteng). Ternyata ada penjara lagi. Saya pun segera memasang tripod saya, lalu berfoto selfi di depan pintu dan kerangkeng penjara tersebut.

Setelah merasa cukup mengambil foto di depan penjara, saya berjalan lagi menuju ke arah pintu depan benteng. Di seberang pintu penjara, terdapat pohon besar (saya lupa jenis pohonnya).   Saya berjalan di jalan paving di antara pintu penjara dan pohon besar itu.

Tiba-tiba kaki saya berat sekali untuk melangkah. Saya tetap memaksakan untuk jalan cepat bahkan mencoba berlari.   Tetapi tidak bisa. Kaki saya berat sekali, demikian juga badan saya terasa berat untuk dibawa jalan. Saya melawan terus keadaan ini.

Tiba-tiba saya jadi ingat. Di program TV Uji Nyali, saya pernah melihat ada peserta yang pingsan kemudian ada yang menyeret badannya sehingga hilang dari tangkapan kamera TV. (Note : ketika saya mengetik paragraf ini, tiba-tiba tengkuk saya merinding.   Serius..!).

Saya takut akan diseret dan dibawa masuk ke dalam penjara. Karena keadaan benteng masih sepi. Tidak ada orang yang tahu, sehingga tidak akan ada yang menolong saya. Sambil berusaha keras untuk tetap berjalan, saya pun membaca doa yang saya hapal (yaitu Al Fatihah J) dan memohon pada Tuhan agar saya ditolong dari kejadian itu.

Saat itu berjalan sejauh 3 meter saja terasa lama sekali. Saya merasa gerakan saya berjalan seperti fim jaman dulu “The Six Million Dollar Man”. Setelah melewati pohon tersebut sejauh 5 meter an, akhirnya saya merasa pelan-pelan kaki dan badan saya bebas dari beban yang berat tadi. Tidak membuang kesempatan saya segera berlari ke arah depan benteng.

Saya jadi ingat bapak-bapak tukang sapu yang tadi mengikuti saya. Mungkin dia tahu kondisi benteng dan khawatir saya yang jalan sendirian lalu “diganggu” di dalam benteng. Mungkin dia ingin menjaga saya, supaya aman di dalam benteng.

Setelah keluar dari benteng. Saya segera menuju ke loket penjualan tiket. Saya bertanya ke Mbak penjaga loket. Mbak di dalam ada yang aneh-aneh ya?   – Iya sering Mas.. – Di sebelah mana – Di terowongan dan di penjara mas – Hadeuh Mbaak… Kok sampeyan gak bilang-bilang sih tadi???

Ketika hal itu saya tanyakan ke seorang teman, katanya saat itu saya dalam posisi akan dibekap oleh Gondoruwo… Hiiiiii….

Discussion

No comments yet.

Bagaimana pendapat Anda?

GOOGLE TRANSLATE

Discount Hotel di Bali

Daftar isi Traveler Post

Arsip Traveler Post

Hotel Murah di Agoda.com

Ikuti Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 147 other subscribers

Tiket Murah di Tiket.com

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: