//
you're reading...
INSPIRASI

[INSPIRE] Anton Krotov, sang Hitchiker

sumber foto : vladivostok3000.ru

sumber foto : vladivostok3000.ru

Anton Krotov adalah salah seorang pencetus metode perjalanan ekstrem berkeliling dunia tanpa modal.  Hingga saat ini, dia telah berkunjung ke 49 negara dengan cara hitchhiking atau menumpang gratis kendaraan darat sekitar 700 ribu kilometer.  Dalam setahun, sembilan bulan dia habiskan berkelana di jalanan dan berkeliling dunia. Tiga bulan sisanya dia pulang ke Moskow atau menetap di satu negara.

Mantan wartawan itu pun telah mempublikasikan informasi perjalanan dan ragam tip dalam situs berbahasa Rusia www.avp.travel.ru. Dia juga menerbitkan 37 judul buku, yang paling diminati adalah buku saku berjudul Practice of Free Travels or Free Travel in Practice.  Buku itu memuat cara-cara berkeliling dunia dan bertahan hidup di medan-medan sulit, termasuk teknik berkelana tanpa modal.

Anton memulai hobi berkelana ekstrem pada 1991 ketika berusia 15 tahun, saat dia menyisir daratan Uni Soviet yang luasnya 2/3 seluruh daratan bumi atau sembilan kali luas Indonesia.  Ketika itu, dia hanya membawa satu koin 60 sen dan menjelajahi bekunya suhu Rusia selama dua bulan. Perjalanan ditempuh dengan menumpang semua jenis moda transportasi, mulai mobil pribadi, truk barang sampai helikopter.  Sukses menaklukkan 86 di antara total 89 provinsi di Rusia yang dinilai merupakan medan terberat di muka bumi membuat dirinya ketagihan berkelana ke benua-benua lain.

Ciri khas Anton adalah gemar mengunjungi negara yang dimusuhi Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Terutama yang dicap negara konflik, negara teroris, negara endemi penyakit, atau negara miskin. Dengan begitu, dia bisa memberitakan kepada dunia tentang fakta-fakta riil di kawasan tersebut melalui buku serta situsnya.  Dia berkesimpulan, tidak ada manusia jahat. Saya pergi ke Somalia, Angola, Sudan, Madagaskar, Afghanistan, Pakistan, Tajikistan, Indonesia, dan lain-lain, mereka semua ramah kepada saya,” ujarnya.

Menurut pria yang 10 tahun silam memeluk Islam itu, di negara-negara konflik justru banyak tersembunyi tempat eksotis. Spot wisata tersebut terkubur kesan angker yang diembuskan negara-negara Eropa dan AS. Melalui buku dan tulisannya, Anton membuka tabir dan mengoreksi travel warning. Tulisannya mendalam dan objektif karena rata-rata dua hingga empat kali dia mengunjungi negara yang sama dalam kurun waktu berbeda sejak 20 tahun terakhir.

Menurut dia, dalam satu dekade belakangan, kesan orisinalitas bangsa dunia telah luntur. Dampak globalisasi dan modernisasi telah menyentuh pedalaman Afrika, Timur Tengah, serta Asia.  Saat ini,  warga di sana sangat materialistis setelah listrik, internet, dan telepon seluler menjamur. Semakin banyak yang mahir berbahasa Inggris dan kerap menaikkan harga jika bertemu turis kulit putih. “Sedikit-sedikit dollar Mister, dollar Mister… ” ungkapnya lantas tersenyum kecut.  Di Tajikistan Timur, pada 1999-2001, siapa saja bisa masuk tanpa visa. Turis cukup membayar dengan tembakau atau beberapa belas dolar saja.  Ironisnya, di negara-negara Islam itu mulai banyak berdiri kafe, supermarket, dan bar. Penduduk kini bisa mengonsumsi bir secara bebas menirukan budaya Barat.

Negara yang sulit dijelajahi adalah Tiongkok. Sebab, sangat sedikit warganya yang pandai berbahasa asing. Untuk memudahkan berkomunikasi, dia merancang metode khusus dengan kartu kata. Dia mencetak 50 kata penting dalam kartu bolak-balik. Satu sisi bertulisan bahasa Mandarin dan sisi lain bahasa Rusia. Jika menginginkan sesuatu, dia tinggal menunjukkan kartu kata tersebut kepada warga lokal.

Tip simpel lain, mereka yang ingin berkeliling dunia setidaknya harus mempelajari 200 kata dalam bahasa lokal di tiap negara yang akan dikunjungi. Kata-kata itu sebaiknya berkaitan dengan kebutuhan primer seperti makan, sandang, dan tempat berteduh. Namun, Anton lebih suka menghafal satu kalimat manjur. Apa itu” “Saya tidak punya uang,” ujarnya lantas tertawa.

Tip-tip itu juga disusun dalam materi kurikulum dan diajarkan kepada sesama backpacker melalui lembaga pendidikan informal yang dimilikinya, yakni Academy of Free Travel, yang kursusnya dilangsungkan berpindah-pindah di berbagai negara itu. Untuk keperluan tersebut, setahun sekali dia menetap selama sebulan dan menyewa rumah di sebuah negara. Di sana, Anton mengundang murid-muridnya dari berbagai negara untuk datang dan berbagi ilmu. Setelah kursus selesai, mereka pun menyebar kembali berkelana membelah penjuru globe.

Anton memiliki kebiasaan yang baik, yakni selalu menelepon orang tuanya sebelum tidur dengan fasilitas telepon internet. Itu dilakukan untuk menghormati ayah dan ibunya. Selain itu, agar keselamatan selalu diberikan Allah SWT. “Yang saya pelajari sebagai orang Islam, jika saya shalat dan tidak minum alkohol, di mana pun berada, saya akan dibantu dan disayangi orang asing,” katanya.

Sepanjang 2012, dia akan mengunjungi Damaskus (Syria), Krasnoyarks (Rusia), Kunming (Tiongkok), dan mengadakan kelas Academy of Free Travel di Guatemala. Pada 2013, kelas akan berpindah ke Madagaskar. Dia berjanji membawa berita-berita baik ke negara-negara itu dan berharap bisa membawa pesan damai Islam di mana pun berada.

Sumber :

Discussion

2 Responses to “[INSPIRE] Anton Krotov, sang Hitchiker”

  1. Inspiratif, thanks for sharing

    Posted by eenx | March 4, 2015, 1:37 AM

Bagaimana pendapat Anda?

GOOGLE TRANSLATE

Discount Hotel di Bali

Daftar isi Traveler Post

Arsip Traveler Post

Hotel Murah di Agoda.com

Ikuti Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 147 other subscribers

Tiket Murah di Tiket.com

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: